info » Latest Info | Info terkini » Tirta Yatra RS. BaliMéd ke Nusa Penida

Tirta Yatra RS. BaliMéd ke Nusa Penida

31-October-2011

Tirta Yatra RS. BaliMéd ke Nusa Penida

Gambar Lainnya

gambar195.jpg

gambar194.jpg

gambar193.jpg

gambar192.jpg

gambar191.jpg

gambar190.jpg

gambar189.jpg

gambar187.jpg

gambar186.jpg

 

Wisata spiritual atau istilahnya Tirta Yatra kali ini pada tanggal 29 Oktober 2011 dalam rangka HUT RS BaliMéd ke-4, kami mengunjungi Kepulauan Nusa Penida Kabupaten Klungkung. Di Pulau Nusa penida banyak sekali terdapat tempat suci / pura yang merupakan Pura kahyangan jagat. Adapun pura yang menjadi tujuan perjalanan kami kali ini meliputi Pura Giri Putri, Pura Puncak Mundi Dan Pura Dalem Ped.

Perjalanan kami mulai pkl 10.30 wita , bersama rombongan kami berangkat menuju pelabuhan Padang bai. Tepat pukul 11.30 kami mulai menyebrang dari padang bai menuju pulau Nusa penida dengan menaiki Kapal RORO. Kami sangat menikmati perjalanan selama menyeberang.

 

Pura Giri Putri

Pura ini berada di dalam goa Giri Putri . Tepat pukul 15.00 kami sampai di Goa Giri Putri yang letaknya di Desa pekraman karangsari Nusa penida. Kami parkir di areal yang letaknya di Tepi laut dengan pemandangan yang indah. Selanjutnya kita harus berjalan kaki mendaki menaiki anak tangga menuju ke mulut goa. Di pelataran ini terdapat pelinggih berupa Padmasana serta bangunan penyangga berupa tempat penyimpanan peralatan upakara. Pemandangan pantai dan lautan dari pelataran yang amat tinggi ini sangat indah. Kami sempat mengabadikan beberapa foto di sini karena letaknya memang sangat indah. Setelah melaksanakan persembahyangan di pelataran goa ini, barulah kita masuk memasuki goa menuju pura Giri Putri.

Goa Giri Putri yang merupakan pintu masuk menuju Pura Giri Putri memiliki dimeter sekitar 80 cm dan berlekak-lekuk penuh tonjolan batu, sehingga kita harus turun ke dalam lubang itu dengan sangat hati hati. Setelah kedua kaki kita menjejak dasar gua, kita harus berjongkok untuk bisa berjalan ke arah  depan karena ketinggian gua hanya cukup untuk separuh ketinggian badan kita, tetapi semakin melebar secara horisontal. Perjalanan jongkok ini hanya sepanjang 3 meter karena sisi atas goa semakin meninggi. di dalam Goa sangatlah luas bahkan bisa menampung ratusan bahkan mungkin ribuan orang.  Semakin dalam kita memasuki goa, semakin lebar ruangan goa. Meski tidak cukup terang, di beberapa tempat di dinding gua telah dipasang lampu-lampu listrik dengan sinarnya yang temaram karena sinar matahari sama sekali tidak bisa masuk . Semakin jauh kita masuk ke dalam goa, ruangannya menjadi semakin lebar dan tinggi. Sebelum menuju Pelinggih Utama, agak dekat dari mulut gua kita akan menjumpai sebuah pelinggih di tengah ruangan, Dari pelinggih inilah prosesi di dalam goa Giri Putri dimulai. Selesai melakukan penghayatan pemedek melanjutkan ke Pelinggih Utama yang berlokasi tepat di perut goa, proses persembahyangan didahului dengan “penglukatan” terlebih dahulu kemudian dilanjutkan sembahyang menghadap pelinggih yang berada di bagian sebelah kanan Goa.  Selanjutnya kita menuju ke Pelinggih Utama yakni tempat memuja Hyang Giri Putri. Pelinggih utama ini letaknya di bagian atas arah sebelah kiri Goa, ternyata di dalam perut goa yang luas ini, terdapat cerukan goa lain yang menyerupai lorong  yang permukaan lantainya lebih tinggi dan bisa menampung sekitar 80 orang. Pelinggih-pelinggih utama terletak di bagian atas tersebut. Selesai melaksanakan persembahyangan disini  Selanjutnya kita akan menuju ke ujung goa yang merupakan tempat persembahyangan terakhir di dalam Goa Giri Putri.

 

Di Ujung goa tedapat 3 pelinggih yaitu linggih Hyang Siwa, Hyang Rambut sedana, dan Dewi Kwan Im dengan konsep Siwa Budha. Sebelum melaksanakan persembahyangan disini kami mendapat pencerahan dari pemangku setempat mengenai keberadaan Pura Giri Putri dan pelinggih pelinggih yang terdapat didalamnya. Sungguh saya sangat terkesan seusai melaksanakan seluruh kegiatan persembahyangan di dalam goa Giri Putri ini. Batin terasa damai dan semakin merasakan akan keagungan yang Kuasa. Keluar dari mulut goa kita akan menuruni tebing menyusuri anak tangga menuju jalan raya dimana angkutam sudah menunggu rombongan.

Pura Puncak Mundi.

Puncak Bukit Mundi adalah tempat tertinggi di daratan Nusa Penida. Disini terdapat 3 pura utama yaitu Pura Beji, Pura Dalem Kerangkeng, dan Pura Puncak Mundi. Di areal ini juga terdapat sebuah Wantilan yang cukup luas. Sesuai tata cara persembahyangan disini, persembahyangan pertama dilaksanakan di Pura Beji yang letaknya sekitar 400 meter ke arah timur dari pura puncak mundi selanjutnya persembahyangan kedua ke Pura Dalem Kerangkeng yang letaknya berdekatan dengan Pura Puncak Mundi,  baru kemudian ke Pura Puncak Mundi.

Merupakan pura Penataran Agung dengan jaba sisi, jaba tengah dan jeroan (paling dalam) Ada perbedaan sedikit dari pura lainnya dimana pura ini jaba tengahnya lebih luas dari areal jeroannya sendiri. Ada banyak bale pekemitan baik di jaba sisi maupun di jaba tengah. Persembahyangan umum dilakukan di sini. Di pura puncak Mundi masih terdapat puluhan ekor kera yang lumayan galak sehingga kita harus berhati hati dengan barang bawaan kita.

 

Pura Dalem Ped

Pura Dalem Peed adalah kompleks pura terbesar di Nusa Penida. Sebelum memulai persembahyangan mungkin perlu untuk menyegarkan badan terlebih dahulu, mengurangi penat akibat dari perjalanan sebelumnya dan juga untuk mengganti pakaian yang basah saat melukat di Goa Giri Putri. Di Areal Pura Dalem Ped terdapat Wantilan yang cukup luas untuk kita beristiraht sejenak sebelum memulai persembahyangan. Di belakang wantilan terdapat kamar mandi untuk pemedek yang biasanya mekemit sampai keesokan paginya. Di seberang jalan terdapat warung warung yang menjual makanan, yang juga menyediakan kamar mandi yang disewakan. Setelah beristirahat sejenak, Mandi dan berganti Pakaian acara persembahyangan dapat dilanjutkan. Di kompleks ini terdapat empat buah pura, yaitu Pura Segara, Pura Taman Sari, pura Ratu Dalem Gede . dan Pura Penataran Agung. Di sebelah areal ini juga terdapat sebuah pura dimana di dalamnya terdapat sebuah pohon besar yang sudah berumur puluhan tahun namanya Pura Taru.

 

Pura Segara

Pura ini berlokasi paling dekat dengan laut, sehingga deburan ombak dan gemercik air laut sangat jelas dari areal tempat ini.  Areal pura tidak begitu luas. Dengan suasana pantai dan deburan ombaknya seperti mengiringi alunan genta sehingga menambah vibrasi saat mata terpejam dalam keheningan suasana sembahyang. Acara persembahyangan berlangsung sebagaimana biasanya dengan dipimpin pandita/ pemangku setempat. Selanjutnya persembahyangan kita lanjutkan ke Pura Taman.

Pura Taman Sari

Dari pura Segara, kita melanjutkan ke Pura Taman. Pura ini berlokasi disebelah timur atau sebelah kanan dari Pura Penataran Agung. Seperti namanya Pura ini dikelilingi oleh kolam yang penuh kembang teratai,  areanya juga tidak begitu luas.  Jika kita menghaturkan banten / sajen  ke pelinggih utama kita akan melewati jalan yang menyerupai jembatan kecil dengan dekorasi yang indah. sehingga kita terasa berada di sebuah taman dewata dengan tanaman teratai yang berbunga indah. Acara persembahyangan di Pura taman ini dilaksanakan sebagaimana biasa. Selanjutnya persembahyangan dilanjutkan ke Pura Ida Ratu Gede.

 

Pura Dalem Ida Ratu Gede

Pura ini ada di sebelah kiri dari Pura Pentaran Agung, di sebelah utara Wantilan, Dengan tiga candi Gelung dengan ornamen khas Nusa penida yang berwarna putih. Di dalam areal pura Ida Ratu Gede ini tidak terlalu banyak ada pelinggih namun arealnya cukup luas,  Satu pelinggih utama dan disebelah kiri pelinggih penyangga. Kapasitas pura cukup besar.  Acara persembahyangan dilaksanakan sebagaimana biasanya yang dipimpin oleh pandita setempat. Selanjutnya kita menuju Pura Penataran Agung.

 

Pura Penataran Agung Dalem Peed

Pura ini berada di sebelah Pura Ida Ratu Gede, arealnya yang lumayan luas dan dengan penataan yang bagus. Disini terdapat banyak pelinggih berjajar pada sisi sebelah timur dan sebelah utara. Agak ke tengah berdiri sebuah gedong besar. Terdapat Padmasana di timur laut menghadap ke barat daya. Acara persembahayangan dilaksanakan di sekitar areal Padmasana di sebelah utara dari pelinggih gedong tadi dengan dipimpin pandita / pemangku setempat.

Persembahyangan di Pura Penataran Agung tadi merupakan persembahyangan terakhir dari acara tirta yatra kami kali ini. selanjutnya para pemedek biasanya akan menghabiskan malam di Wantilan pura sambil menungu pagi tiba. tapi banyak pula yang melaksanakan sembahyang bersama  tepat pukul 24.00 wita di Pura Ida Ratu Gede. Pukul 08.00 wita kami mulai berkemas kemas untuk berangkat kembali menyebrang menuju Padang Bai. Demikian tulisan ini saya akhiri dengan meninggalkan kesan yang sangat mendalam, ketenangan bathin dan semakin dapat merasakan betapa beliau begitu Agung dan Suci sehingga kita dapat menyadari & merasakan betapa  sesungguhnya kita sangatlah kecil dihadapanNya.

 

Komentar

Nama

E-mail

Alamat

Telp/HP

1

Design & Programming By Wirarama Wedashwara On 2008
Maintenance by Haraby & Rama